Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan

Kesibukan Picu Obesitas Anak

Written By Unknown on Rabu, 20 Juni 2012 | 00.45

Kesibukan Picu Obesitas Anak Lagi-lagi, peran wanita sebagai ibu dan perempuan bekerja dipertanyakan. Di Amerika, selama 35 tahun terakhir jumlah kaum ibu yang tetap bekerja sambil mengasuh anak telah melonjak, dari kurang dari 50 persen ke lebih dari 70 persen. Tingkat obesitas anak, yang hampir mendekati 17 persen, telah meningkat lebih dari tiga kali lipat pada kurun waktu tersebut.

Kedua fenomena ini dipandang bukan suatu kebetulan. Studi baru yang diterbitkan di jurnal Child Development mengatakan bahwa semakin lama ibu bekerja, semakin naik kecenderungan anak menjadi overweight atau obesitas. Anak-anak kelas 6 SD yang datang dari ibu bekerja, kecenderungan mereka menjadi overweight naik enam kali lipat dibanding mereka yang ibunya tidak bekerja.

Memang, ketiadaan ibu di rumah tidak langsung menyebabkan masalah berat badan pada anak. Kurangnya waktu ibu untuk memasak sendiri untuk anak menyebabkan anak bergantung pada makanan cepat saji atau kemasan, yang akhirnya menyebabkan masalah obesitas ini.

"Ini bukan masalah pekerjaan ibu, tapi lingkungannya," kata penulis studi ini, Taryn Morrissey, PhD, asisten profesor administrasi dan kebijakan publik di American University di Washington, DC. "Akses untuk makanan sehat itu perlu diperbaiki."

Tim Morrissey menganalisa data yang dimulai pada tahun 1991, dan mengamati lebih dari 1.000 anak di seluruh negara, dari bayi hingga usia 15 tahun. Selama studi tersebut, peneliti mewawancara keluarga mengenai kehidupan mereka sehari-hari dan mengukur indeks massa tubuh anak (IMT, rasio tinggi dan berat badan yang mengestimasi lemak tubuh secara total).

Tiga perempat dari ibu yang diteliti adalah ibu bekerja, dan mereka bekerja rata-rata 27 jam per minggu, ketika anak duduk di kelas 3 SD. Sebanyak 80 persen ibu tersebut tinggal bersama suami atau pasangan yang juga bekerja penuh waktu.

Namun, studi ini tidak mengumpulkan data mengenai kebiasaan makan keluarga, sehingga peneliti tidak mampu mengonfirmasi dugaan mereka bahwa pola makan adalah penyebab dari hasil penemuan mereka itu. Tak satu pun faktor yang dilihat peneliti -entah itu jumlah waktu yang dihabiskan untuk menonton TV, aktivitas fisik sehari-hari, dan pengawasan orangtua- membantu menjelaskan kaitan antara ketiadaan ibu di rumah dengan IMT anak. Begitu pula apakah jam kerja ibu yang teratur (9 to 5), atau yang bergantung shift, menjelaskan hubungan dua hal ini. Di lain pihak, tim Morrissey juga tidak mempertimbangkan faktor potensial lainnya, seperti kekacauan dalam keluarga (seperti perceraian) atau riwayat pekerjaan pihak ayah.

Itu sebabnya, Michele Mietus-Snyder, MD, direktur Obesity Institute di Children's National Medical Center, Washington, DC, menekankan bahwa studi ini hanya menyebabkan kaitan, bukan sebab-akibat. Toh, dengan berbagai kekurangan tersebut, studi ini menambah jumlah literatur ilmiah yang menghubungkan berat badan anak dengan jam kerja ibu. Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menjelaskan kaitan kuat antara kedua hal tersebut Kesibukan Picu Obesitas Anak.
00.45 | 0 komentar | Read More

Butuh Keberanian Jika Ingin Langsing

Butuh Keberanian Jika Ingin Langsing Menurut Jillian Michaels, pelatih pada kompetisi The Biggest Loser, agar berhasil menurunkan berat badan yang dibutuhkan kita tak hanya harus paham bagaimana memilih makanan sehat dan berolahraga dengan benar, tapi juga butuh mental penghapus lemak tubuh. Mental ini akan membentuk persepsi kita menjadi sebuah keyakinan untuk sampai pada tubuh ideal yang kita inginkan.

Michaels adalah salah satu orang yang berhasil mengalahkan obesitas. Sewaktu dirinya berusia 13 tahun, beratnya sudah mencapai 77 kg. Pengalaman ini setidaknya menjadi gambaran nyata bagi dia untuk memahami mental seperti apa yang harusnya kita punya ketika berjuang menurunkan berat badan. Dan mental itu adalah:

Jangan pernah menoleh ke belakang. Bagi Michaels, bagaimana dulu teman-teman sebayanya mengejek dan memberi julukan padanya adalah hal jahat yang tak patut diingat. Jangan mau dijebak dengan persepsi negatif itu. Hal yang harus kita lakukan adalah mengubah dan memandang jauh ke depan. Bahwa pembabatan lemak yang menumpuk di tubuh harus dilakukan demi kualitas hidup yang baik. Bukan untuk orang lain tapi demi diri kita sendiri.

Buat target yang realistik, jangan terlalu menekan diri. Setelah kita memutuskan status kesehatan mana yang ingin kita nikmati, itu adalah tujuan realistis kita. Fokus pada tujuan itu dan capailah sesuai dengan kemampuan tubuh untuk mencapainya. Dengan mencoba santai tapi tetap pada pencapaian target, kita bisa lebih menikmati proses yang tengah dihadapi. Sehingga penyangkalan diri tak perlu berlama-lama menggagalkan program diet kita.

Saat gagal, janganlah menghukum diri terlalu berlebihan. Tidak selalu mudah untuk sampai pada "tempat tujuan". Sebab memang tak ada jaminan jalan kita akan selalu lurus karena tekad sudah membara di dalam dada. Itu mengapa ketika kita mengalami kegagalan atau merasa sangat tertekan, jangan justru menjadikan ini sebagai pertanda kita telah gagal, atau menjadi gemuk adalah takdir yang tak dapat dihapus. Apa yang harus kita lakukan, menurut Michaels, bangkit dan coba kalahkan tantangan dengan lebih kuat lagi. “Menyerah bukanlah semangat yang dimiliki seorang pejuang,” tegasnya.

Karena semuanya demi diri kita, lakukanlah yang terbaik! Semuanya adalah pilihan dan ketika kita sebagai orang dewasa memilih dengan sadar maka bertanggung jawablah terhadap pilihan tersebut. Rasa tanggung jawab ini akan membuat kita percaya diri dan tekun dalam melampaui tahapan-tahapan perjuangan mencapai target. Jadi jangan pernah beri yang tidak sempurna pada diri kita sendiri.

Agar kita selalu ingat dengan motivasi ini, cobalah print artikel ini, dan letakkan di tempat-tempat yang mudah untuk dilihat. Jika ingin menambahkan beberapa poin, lakukan, dan cobalah untuk mengingatnya sebagai obor kemenangan. Sehingga kita akan selalu tahu kemana harus melihat setiap kali mulai merasa tak bersemangat atau tak berhasil mencapai target. Selamat berjuang Butuh Keberanian Jika Ingin Langsing.
00.34 | 0 komentar | Read More

Bersahabat Dengan Temen Obesitas

Bersahabat Dengan Temen Obesitas Ingin punya tubuh yang ramping dan kencang? Banyak-banyaklah bergaul dengan teman yang memiliki tubuh seperti itu. Sebaliknya, menurut penelitian mengenai Indeks Massa Tubuh yang dilakukan Arizona State University, orang yang selalu dikelilingi teman-teman yang mengalami obesitas lama-kelamaan akan melebar lingkar pinggangnya.

Mengapa hal ini terjadi? Para peneliti meyakini bahwa dengan melihat orang-orang di sekitar yang berukuran besar, kita bisa terdorong untuk melihat bahwa obesitas adalah sesuatu yang normal. Alhasil, kita jadi terpicu untuk ikut makan lebih banyak. Semakin gemuk teman-teman kita, semakin besar kemungkinan kita menjadi ikut gemuk.

"Melihat obesitas telah menyebar di antara teman-teman dekat dan anggota keluarga, akan meningkatkan pertanyaan penting, bagaimana hal itu bisa menyebar," kata Daniel Hruschka, pemimpin studi ini.

Kita bisa membentuk suatu pemahaman mengenai ukuran tubuh yang pantas hanya dengan mengamati tubuh teman-teman kita, lanjut Hruschka. Akibatnya, hal ini mengubah pola makan dan latihan kita. "Jika kita bisa menemukan dengan tepat (alasan) mengapa obesitas menyebar di kalangan teman-teman dan keluarga, kita bisa tahu ke mana harus berfokus untuk menahan tingkat obesitas," ujarnya.

Meskipun begitu, tim peneliti tidak membuat kesimpulan yang pasti antara ukuran tubuh dan kelompok pertemanan. Mereka hanya berkeras bahwa penelitian ini memberikan petunjuk penting dalam menghadapi masalah obesitas yang terus meningkat Bersahabat Dengan Temen Obesitas.
00.32 | 0 komentar | Read More
Techie Blogger